
Minoritas Dong Tiongkok: mengapa kami merekam dan melestarikan warisan arsitektur asli mereka secara digital
China’s Dong minority: why we’re digitally recording and preserving their Indigenous architectural heritage
A new project uses cutting-edge digital technology to precord the architecture and culture of China’s Indigenous Dong minority.
Sebuah proyek baru menggunakan teknologi digital mutakhir untuk merekam arsitektur dan budaya minoritas Dong asli Tiongkok.
The Dong people in China are an Indigenous ethnic group who are known to have lived in the mountainous regions of southwestern China for about 600 years. They don’t have a written language – instead their cultural knowledge is shared by word of mouth. This means that the outside world doesn’t know much about them.
Suku Dong di Tiongkok adalah kelompok etnis Pribumi yang diketahui telah tinggal di wilayah pegunungan Tiongkok barat daya selama sekitar 600 tahun. Mereka tidak memiliki bahasa tertulis – sebaliknya, pengetahuan budaya mereka diturunkan dari mulut ke mulut. Ini berarti bahwa dunia luar tidak mengetahui banyak tentang mereka.
But an ambitious university-led research project to document the Dong people’s distinctive architecture is revealing a great deal about this marginalised Indigenous group’s way of life.
Namun, sebuah proyek penelitian ambisius yang dipimpin universitas untuk mendokumentasikan arsitektur khas suku Dong mengungkapkan banyak hal tentang cara hidup kelompok Pribumi marjinal ini.
There are an estimated 3 million Dong people living in the provinces of Guizhou, Hunan and Guangxi. They are renowned for their polyphonic choral singing, which has been inscribed by Unesco since 2009 as an example of world-class intangible cultural heritage. Their architecture, landscape and refined agricultural terracing are also distinctive, but less well known and never digitally recorded.
Diperkirakan ada 3 juta orang Dong yang tinggal di provinsi Guizhou, Hunan, dan Guangxi. Mereka terkenal dengan nyanyian paduan suara polifoniknya, yang telah dicatat oleh Unesco sejak tahun 2009 sebagai contoh warisan budaya tak benda kelas dunia. Arsitektur, lanskap, dan terasering pertanian mereka yang halus juga khas, tetapi kurang dikenal dan belum pernah direkam secara digital.
Dong buildings and settlements are typically hidden in fir forests with direct access to waterways at the bottom of valleys or halfway up hills. A Dong settlement typically has around 200 households of four to five people – although some larger villages can have as many as 500 households.
Bangunan dan pemukiman Dong biasanya tersembunyi di hutan cemara dengan akses langsung ke jalur air di dasar lembah atau setengah jalan menanjak bukit. Sebuah permukiman Dong umumnya memiliki sekitar 200 rumah tangga yang dihuni oleh empat hingga lima orang – meskipun beberapa desa yang lebih besar dapat memiliki sebanyak 500 rumah tangga.
These villages tend to have a gatehouse marking their boundary, defining their territory in relation to neighbouring settlements. Many feature a distinctive “wind-and-rain bridge” – a mix of village gate and covered bridge – used for communal gatherings and blocking ceremonies. Ponds, wells, and granaries are scattered throughout the landscape.
Desa-desa ini cenderung memiliki gerbang utama yang menandai batas mereka, mendefinisikan wilayah mereka relatif terhadap pemukiman tetangga. Banyak di antaranya menampilkan “jembatan angin dan hujan” yang khas – perpaduan antara gerbang desa dan jembatan tertutup – yang digunakan untuk pertemuan komunal dan upacara penghalangan. Kolam, sumur, dan lumbung tersebar di seluruh lanskap.
At the heart of most villages, surrounded by wooden houses of two or three storeys, there is a “drum tower” and a “Sa-Sui shrine”. The former represents the connection of the people’s sacred belief of clan kinship and fir trees, while the latter represents the centre of the Dong’s worship of the “Sa” or grandmother. They are the most important buildings in a village – for security, social and spiritual reasons.
Di jantung sebagian besar desa, dikelilingi oleh rumah-rumah kayu bertingkat dua atau tiga, terdapat “menara drum” dan “kuil Sa-Sui.” Yang pertama melambangkan hubungan keyakinan suci masyarakat tentang kekerabatan klan dan pohon cemara, sementara yang kedua mewakili pusat pemujaan Dong terhadap “Sa” atau nenek. Keduanya adalah bangunan terpenting di sebuah desa – karena alasan keamanan, sosial, dan spiritual.
Culture at risk
Warisan Budaya yang Terancam
Nowadays, the Dong’s built and cultural heritage are increasingly at risk. This is due to a combination of climate change, natural disasters, urban infrastructure development and the expansion of rural tourism.
Saat ini, warisan bangunan dan budaya suku Dong semakin terancam. Hal ini disebabkan oleh kombinasi perubahan iklim, bencana alam, pembangunan infrastruktur perkotaan, dan perluasan pariwisata pedesaan.
A warming climate is increasingly triggering wild fires and causing mountain flooding. We are also seeing the encroachment of urbanism into the Dong’s rural settings. While bringing improvements in the quality of life, this often presents domestic fire hazards due to poor-quality electrical infrastructure. And in recent years, the growth of tourism and the encroachment of roads, railways and bridges is in danger of turning these villages into decorated stage-sets. This may bring in money, but threatens the Dong people’s unique architecture and landscape.
Iklim yang menghangat semakin memicu kebakaran liar dan menyebabkan banjir gunung. Kita juga melihat invasi urbanisme ke lingkungan pedesaan suku Dong. Meskipun membawa perbaikan dalam kualitas hidup, hal ini sering menimbulkan bahaya kebakaran domestik akibat infrastruktur listrik berkualitas rendah. Dan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pariwisata serta perluasan jalan, rel kereta api, dan jembatan berisiko mengubah desa-desa ini menjadi panggung dekoratif. Ini mungkin mendatangkan uang, tetapi mengancam arsitektur dan lanskap unik masyarakat Dong.
It’s a pressing challenge for this Indigenous people and for those of us dedicated to preserving their historic environment, their culture and their highly ritualised way of life.
Ini adalah tantangan mendesak bagi masyarakat adat ini dan bagi kita yang berdedikasi untuk melestarikan lingkungan bersejarah mereka, budaya mereka, dan cara hidup mereka yang sangat ritualistik.
Tragically, the scarcity of resources means that schemes for repair, restoration and regeneration works, as well as insufficient conservation policies and frameworks, have been slow to help preserve these precious villages. The far remote mountainous environment does not help. Both the local communities and government authorities have extremely limited resources to manage almost any change to their historic environment.
Tragisnya, kelangkaan sumber daya berarti bahwa skema perbaikan, restorasi, dan regenerasi, serta kebijakan dan kerangka konservasi yang tidak memadai, lambat membantu melestarikan desa-desa berharga ini. Lingkungan pegunungan yang jauh tidak membantu. Baik komunitas lokal maupun otoritas pemerintah memiliki sumber daya yang sangat terbatas untuk mengelola hampir setiap perubahan pada lingkungan bersejarah mereka.
Despite the remote location of many of these villages, they are now being encroached upon by modern development. We’re seeing the growth of contemporary housing developments using modern structures and materials. It’s part of the rapid urbanisation of China over the past few decades – but, like elsewhere, it’s irreversibly changing the image and identity of the Dong settlements and their architecture.
Meskipun lokasi banyak desa ini terpencil, kini mereka semakin terdesak oleh pembangunan modern. Kita melihat pertumbuhan pengembangan perumahan kontemporer menggunakan struktur dan material modern. Ini adalah bagian dari urbanisasi cepat Tiongkok selama beberapa dekade terakhir – tetapi, seperti di tempat lain, hal itu secara ireversibel mengubah citra dan identitas permukiman serta arsitektur Dong.
The problem of modern tourist development can be seen in the way traditional-style drum towers are being built as theme park attractions. At the Danzhai Wanda Village, a newly developed theme park near Kaili in Guizhou, the nearest city to the Dong’s Indigenous areas, there are five newly built drum towers, billed as “iconic”, which are presented as standalone monuments with no sense of their relationship with the surrounding houses and forests.
Masalah pembangunan pariwisata modern dapat dilihat dari cara menara drum bergaya tradisional dibangun sebagai atraksi taman hiburan. Di Danzhai Wanda Village, sebuah taman hiburan yang baru dikembangkan dekat Kaili di Guizhou, kota terdekat dengan wilayah adat Dong, terdapat lima menara drum yang baru dibangun, dipromosikan sebagai “ikonik”, yang disajikan sebagai monumen mandiri tanpa menunjukkan hubungannya dengan rumah dan hutan di sekitarnya.
Decoding Dong built heritage
Mendokumentasikan Warisan Bangunan Dong
The need to document and protect authentic Indigenous Dong culture is what has driven the Decoding Dong project.
Kebutuhan untuk mendokumentasikan dan melindungi budaya asli Dong yang otentik adalah pendorong di balik proyek Decoding Dong.
This was launched in 2023 and completed in 2025 and set to digitally document Dong physical and cultural heritage.
Proyek ini diluncurkan pada tahun 2023 dan akan selesai pada tahun 2025, dengan tujuan mendokumentasikan warisan fisik dan budaya Dong secara digital.
This interdisciplinary project draws on humanities and social science disciplines ranging from architecture, anthropology, heritage sciences, sociology and digital humanities.
Proyek interdisipliner ini memanfaatkan disiplin ilmu humaniora dan ilmu sosial mulai dari arsitektur, antropologi, ilmu warisan, sosiologi, hingga humaniora digital.
It put together a series of innovative and complementary research methods. This has involved 3D LiDAR scanning, aerial and terrestrial photogrammetry (the science of applying mathematics to photographs to extract accurate 3D measurements) , 3D reality capture modelling, measured drawing, documentary film making and mapping. This has been complemented with oral histories from provided by Dong people.
Proyek ini menggabungkan serangkaian metode penelitian yang inovatif dan komplementer. Ini melibatkan pemindaian LiDAR 3D, fotogrametri udara dan darat (ilmu menerapkan matematika pada foto untuk mengekstrak pengukuran 3D yang akurat) , pemodelan penangkapan realitas 3D, gambar terukur, pembuatan film dokumenter, dan pemetaan. Hal ini dilengkapi dengan sejarah lisan dari masyarakat Dong.
The project has completed a first-of-its-kind digital documentation of the Dong architectural heritage, building digital and audio-visual documentaries of around 100 historic buildings across a dozen remote Dong villages.
Proyek ini telah menyelesaikan dokumentasi warisan arsitektur Dong yang pertama kalinnya, membangun dokumenter digital dan audiovisual dari sekitar 100 bangunan bersejarah di selusin desa terpencil Dong.
A key part of the research process was to consult with key stakeholders, including clan leaders, elderly villagers and provincial policymakers wherever possible.
Bagian penting dari proses penelitian adalah berkonsultasi dengan pemangku kepentingan utama, termasuk pemimpin klan, penduduk desa senior, dan pembuat kebijakan provinsi sedapat mungkin.
Indigenous Dong heritage is still under threat, due to the scarcity of resources faced by both the local authority and the communities themselves.
Warisan asli Dong masih terancam, karena kelangkaan sumber daya yang dihadapi oleh otoritas lokal maupun komunitas itu sendiri.
But this project represents a step change. By building a mutually beneficial store of information, supported by cutting-edge digital technologies, we hope to draw more attention to this distinctive people without threatening what it is that makes them unique.
Namun proyek ini mewakili perubahan besar. Dengan membangun gudang informasi yang saling menguntungkan, didukung oleh teknologi digital mutakhir, kami berharap dapat menarik lebih banyak perhatian pada masyarakat khas ini tanpa mengancam apa yang membuat mereka unik.
Xiang Ren receives funding from Arcadia—a charitable fund to record cultural heritage, to conserve and restore nature, and to promote open access to knowledge, via its Endangered Wooden Architecture Programme coordinated by Oxford Brookes University (EWAP2039LG, 2023-25) , and the University of Sheffield Knowledge Exchange Funding (QR-PSF, 2026) .
Xiang Ren menerima pendanaan dari Arcadia—dana amal untuk merekam warisan budaya, melestarikan dan memulihkan alam, serta mempromosikan akses terbuka terhadap pengetahuan, melalui Program Arsitektur Kayu yang Terancam Punah yang dikoordinasikan oleh Oxford Brookes University (EWAP2039LG, 2023-25) , dan Pendanaan Pertukaran Pengetahuan University of Sheffield (QR-PSF, 2026) .
Read more
-

Mentega atau margarin? Seorang ilmuwan pangan menjelaskan penyimpangan kimia halus mereka dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi kue Anda
Butter or margarine? A food scientist describes their subtle chemical deviations and how they can affect your baked goods
-

Kesepakatan gencatan senjata US-Iran Trump adalah kembalinya yang mahal ke kondisi praperang – dan menyelesaikan pertanyaan nuklir akan menghadapi ‘masalah indivisibilitas’.
Trump’s US-Iran ceasefire deal is a costly return to prewar conditions – and resolving nuclear questions will run into the ‘indivisibility problem’